Aku Odapus ~ part 7

Selang beberapa hari, aku memutuskan segera kembali menemui dokter Hellmi di Semarang. Kali ini aku mendaftar di paviliun Garuda, kelas eksekutif di rumah sakit besar tersebut. 

Fasilitas di paviliun ini jauh berbeda. Ruang tunggu yang cukup luas, suhu ruang yang cenderung terlalu dingin buatku, dan hak privasi saat berkonsultasi dengan dokter.

Ya, di paviliun ini pasien bisa bertanya sepuasnya dengan dokter tanpa diburu-buru adanya pasien lain yang sudah lama menunggu sambil memperhatikan dekat pintu masuk yang selalu terbuka.

Sudah satu setengah jam lalu pasien bergiliran dipanggil masuk oleh perawat jaga tapi tidak juga sampai pada namaku. Padahal nomor antrianku 16. Setiap pasien menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit di dalam ruangan. 

Tiba namaku dipanggil. Aku segera masuk ke ruang dokter. Didalamnya sudah menunggu dokter Hellmi, asisten dokter dan satu perawat yang membantu. Bisa kulihat senyum dr Hellmi di balik maskernya. Bertanya kabar (yang sebenarnya bingung harus kujawab apa) . Dokter memastikan ruas jari tanganku tidak terjadi bengkok dan nyeri. 

"Saya kasih Prednison buat antiradang dan Hidroksiklorokuin ya buat bantu kurangin radangnya. Bagus ini masih di tahap ringan, jadi pengobatannya nanti bisa cepat. Yang penting jangan stress, pola makan yang baik dan sementara hindari sinar matahari terlalu lama ya. Memang tidak bisa sembuh sepenuhnya, tapi kita akan berusaha kendalikan agar tidak menjadi lebih berat, " Jelas dokter sambil kembali tersenyum. Sebentar saja, lalu selesai. Aku keluar ruang periksa. Mengambil antrian obat. 

Aku tidak banyak tanya. Hanya ber-iya iya saja. Aku bingung dengan perasaanku. Rasanya kosong. Sedih? Tidak. Senang? Tentu tidak juga. Kecewa? Mungkin iya karena tidak pernah menduga aku menjadi pengidap Lupus. Seharusnya kata-kata dokter tadi bisa menenangkan bagi orang yang baru pertama kali terdiagnosa suatu penyakit. Tapi hatiku seperti mati rasa.

To be continued~

tachi

Salah satu Odapus yang berprofesi sebagai apoteker

No comments:

link